Posted by : harisetiawan Selasa, 12 Agustus 2014

Presiden SBY sedang berpidato


Seorang presiden secara otomatis telah menjadi cerminan sebuah bangsa dan negara. Karya dan program kerja yang diwujudkannya tidak pernah luput dari sorotan media. Tidak hanya itu, hal lain seperti: Cara berpenampilan, cara menyambut tamu, cara berbicara dan caranya bersosialisasi juga menjadi bahan obrolan  media dan masyarakat. Bagaimana jika seorang presiden terkena isu telah melakukan korupsi?
Korupsi telah menjadi suatu hal yang telah “membudaya” di Indonesia. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menghapus korupsi di Indonesia sampai ke akarnya. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang didukung oleh masyarakat Indonesia dinilai berhasil dalam memulai langkah menghapus korupsi di Indonesia. Namun, hal itu menimbulkan kecurigaan pada berbagai jajaran pemerintah di Indonesia akan adanya kemungkinan korupsi. Kecurigaan tersebut telah memberi hasil. Sebagai contoh : Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Banten), Andi Mallarangeng (mantan Menpora), dan Suryadharma Ali (mantan Menag) telah diproses oleh KPK sehingga menjadi tersangka kasus-kasus korupsi di Indonesia. Kini kecurigaan tersebut mengarah pada pemimpin pemerintahan Indonesia, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden yang telah memimpin Indonesia selama hampir 2 periode ini dinilai telah mengadakan korupsi dalam proyek pencetakan rupiah di Australia. Pemberitaan tersebut pertama kali dipublikasi oleh situs Wikileaks. Beliau selayaknya tersinggung dan berhak untuk marah. Setelah mengetahui pemberitaan miring tersebut, beliau langsung memberikan pembelaan melalui berbagai media. Presiden yang akrab dengan panggilan SBY ini menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya akan pemberitaan yang tidak terbukti kebenarannya. SBY juga memberikan pesan kepada pemerintah Australia untuk mengklarifikasi pemberitaan korupsi tersebut oleh situs Wikileaks. Faktanya, pencetakan rupiah di Australia hanya terjadi sekali. Pencetakan rupiah tersebut dilakukan oleh perusahaan NPA (Note Printing Australia) terjadi pada tahun 1999, saat SBY belum menjadi presiden. Alangkah lebih baik jika media mengapresiasi kemajuan dan prestasi di Indonesia semasa pemerintahan presiden tertentu, dibanding hanya menekankan isu-isu dan pemberitaan yang belum tentu tepat. Dengan mengapresiasi, dalam hal ini mengapresiasi pemerintah (khususnya presiden), akan menimbulkan rasa semangat untuk lebih memajukan bangsa dan negara. Sebaliknya, jika media hanya memberikan pemberitaan-pemberitaan negatif, maka akan mengacaukan konsentrasi pemerintah dalam berkarya memajukan dan menyejahterakan bangsa dan negara.

12 Agustus 2014

 Yosaphat Hari Setiawan Wijayanto

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Hari Setiawan Blog -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -