Archive for Agustus 2014

Persembahanku untuk-Mu: Tugas Kelompok Menyusun Tanggapan

Senin, 25 Agustus 2014
Posted by harisetiawan






Kelompok 5 (XII IPS
4):
1.      Antin Mailani             (07)
2.      Inan Saraswati          (14)
3.      M. Malikul A.F.          (16)
4.      Ririn Setyowati         (24)
5.      Yosaphat Hari S.W.    (27)

Jalur
SNMPTN Menjadi Idaman
Jalur undangan / SNMPTN adalah jalur alternatif agar bisa masuk universitas. Jalur
/ cara ini menjadi idaman karena prosesnya yang lebih memudahkan
pelajar SMA kedepannya
untuk masuk ke PTN (
Perguruan Tinggi Negeri) favorit. Setiap SMA akan menginput nilai
raport, pilihan Universitas dan fakultas masing-masing pelajar, lalu
Universitas yang terkait akan memberikan tanggapan dalam bentuk undangan kepada
pelajar yang terpilih. Undangan tersebut berisi keterangan bahwa universitas
tersebut mengijinkan pelajar tersebut untuk 
masuk ke universitas tersebut tanpa melalui Ujian / Tes masuk yang
sekarang disebut SBMPTN.
Kini, Jalur Undangan
/ SNMPTN semakin mudah prosesnya, dan juga memiliki resiko yang tinggi bila undangan
tersebut ditolak. Sehingga setiap pelajar dalam menentukan pilihan universitas
harus mempertimbangkan segala peluang dan resikonya. Dalam menentukan pilihan
diperlukan rasa bertanggungjawab dan komitmen tinggi. Jika sudah membuat
pilihan, sudah seharusnya bisa bertanggungjawab atas pilihannya. Namun, belakangan ini banyak pelajar yang menolak
jalur SNMPTN karena memilih untuk masuk ke universitas lain yang dianggap lebih
baik. Setiap pelajar yang menolak undangan tersebut memiliki berbagai
pertimbangan dan alasan (baik alasan rasional maupun irrasional), namun
keputusan itu akan memupuskan harapan adik kelas untuk masuk ke
universitas tertentu yang ditolak melalui jalur undangan
melalui jalur SNMPTN . Kenapa bisa begitu? Peluang untuk mendapatkan jalur undangan dapat
dikatakan kecil dan sulit, karena banyaknya pelajar yang mendaftar untuk
mendapatkan jalur tersebut. Jika ada pelajar di suatu SMA menolak undangan dari
PTN, maka untuk tahun kedepannya PTN tersebut sulit untuk percaya pada SMA
tersebut dan tidak akan memberikan undangan untuk pelajar di SMA tersebut,
sistem tersebut lebih dikenal dengan sistem
Blacklist
.
Oleh karena itu, Seorang
pelajar dalam hal ini tidak hanya diajarkan bagaimana menerima pelajaran dan
mendapat nilai yang bagus, tetapi semestinya juga diajarkan  bagaimana sikap tanggungjawab terhadap
pilihan dan keputusannya oleh Orang Tua dan pihak Sekolah sedini mungkin.

"Dituduh Korupsi, SBY Emosi"

Selasa, 12 Agustus 2014
Posted by harisetiawan
Presiden SBY sedang berpidato


Seorang presiden secara otomatis telah menjadi cerminan sebuah bangsa dan negara. Karya dan program kerja yang diwujudkannya tidak pernah luput dari sorotan media. Tidak hanya itu, hal lain seperti: Cara berpenampilan, cara menyambut tamu, cara berbicara dan caranya bersosialisasi juga menjadi bahan obrolan  media dan masyarakat. Bagaimana jika seorang presiden terkena isu telah melakukan korupsi?
Korupsi telah menjadi suatu hal yang telah “membudaya” di Indonesia. Banyak usaha yang telah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menghapus korupsi di Indonesia sampai ke akarnya. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang didukung oleh masyarakat Indonesia dinilai berhasil dalam memulai langkah menghapus korupsi di Indonesia. Namun, hal itu menimbulkan kecurigaan pada berbagai jajaran pemerintah di Indonesia akan adanya kemungkinan korupsi. Kecurigaan tersebut telah memberi hasil. Sebagai contoh : Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Banten), Andi Mallarangeng (mantan Menpora), dan Suryadharma Ali (mantan Menag) telah diproses oleh KPK sehingga menjadi tersangka kasus-kasus korupsi di Indonesia. Kini kecurigaan tersebut mengarah pada pemimpin pemerintahan Indonesia, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden yang telah memimpin Indonesia selama hampir 2 periode ini dinilai telah mengadakan korupsi dalam proyek pencetakan rupiah di Australia. Pemberitaan tersebut pertama kali dipublikasi oleh situs Wikileaks. Beliau selayaknya tersinggung dan berhak untuk marah. Setelah mengetahui pemberitaan miring tersebut, beliau langsung memberikan pembelaan melalui berbagai media. Presiden yang akrab dengan panggilan SBY ini menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya akan pemberitaan yang tidak terbukti kebenarannya. SBY juga memberikan pesan kepada pemerintah Australia untuk mengklarifikasi pemberitaan korupsi tersebut oleh situs Wikileaks. Faktanya, pencetakan rupiah di Australia hanya terjadi sekali. Pencetakan rupiah tersebut dilakukan oleh perusahaan NPA (Note Printing Australia) terjadi pada tahun 1999, saat SBY belum menjadi presiden. Alangkah lebih baik jika media mengapresiasi kemajuan dan prestasi di Indonesia semasa pemerintahan presiden tertentu, dibanding hanya menekankan isu-isu dan pemberitaan yang belum tentu tepat. Dengan mengapresiasi, dalam hal ini mengapresiasi pemerintah (khususnya presiden), akan menimbulkan rasa semangat untuk lebih memajukan bangsa dan negara. Sebaliknya, jika media hanya memberikan pemberitaan-pemberitaan negatif, maka akan mengacaukan konsentrasi pemerintah dalam berkarya memajukan dan menyejahterakan bangsa dan negara.

12 Agustus 2014

 Yosaphat Hari Setiawan Wijayanto
Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Hari Setiawan Blog -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -